skippin' troupe
rss
28 Jul

Kecapi di Ermenonville

at July 28th, 2008 by | permalinkpermalink | category Posted in Europe, Wanderlust

Sekali-kalinya saya dapat rezeki jalan-jalan gratis ke Paris, kesempatannya datang pada bulan Desember. Saat udara sangat dingin dan kotanya becek. Begitu tiket sudah ditangan saya langsung menghubungi adik yang sedang menetap di Roma. Dia berjanji akan menemui saya di Paris. Yeay!

Karena baru pertama kali tentunya saya sempatkan ke tempat-tempat yang umum dikunjungi turis. Menelusuri jalan Champs-Elysées sampai Arc de Triomphe, menghangatkan badan sembari menikmati masterpiece seniman dunia di Louvre dan foto-foto di bawah menara Eiffel.

Sebenarnya ketika melihat antrian di pintu masuk Louvre, saya agak gemetar. Karena memang dingin jadi menggigil dan karena antrian panjang banget, tapi akhirnya pasrah juga ikutan antri. Rasanya senang begitu bisa masuk ke dalam kubah kaca segitiga yang terkenal itu dan menjelajahi setiap ruangan di sana. Mengincar Monalisa, Venus de Milo, dan kawan-kawan sederajat mereka. Ketika kaki mulai terasa nyut-nyut, saya bertanya ke teman yang bersama saya masuk ke Louvre kapan kita membayar HTM nya. Kami berdua baru tersadar bahwa kami belum mengeluarkan uang sepeserpun menikmati karya seni yang selama ini kami lihat di buku encyclopedia saja. Setelah tanya sana sini, ternyata setiap minggu pertama di tiap bulan biaya masuk museum gratis dan kami datang pada hari minggu pertama Desember. Lumayan jadi bisa ngiriiit…

Akhirnya saya masuk karantina juga untuk kerja. Lokasinya di desa d’Ermenonville, 40 km di sebelah utara Paris. Di desa kecil yang sepi ini saya menginap di sebuah chateau tua yang cantik. Selama 4 hari 3 malam saya dikurung dan tidak keluar sekalipun dari kompleks chateau. Hampir-hampir saya mati bosan disana. Dari mulai sarapan sampai makan malam semua dilakukan di dalam penginapan. Dan mungkin karena chateau ini tidak terlalu sering menerima tamu sehingga walau pemanas ruangan sudah saya nyalakan poll tapi udara dingin sudah terlanjur terperangkap di dalamnya. Saya tidur dengan kaos berlapis, sweater, kaos kaki tebal dan selimut. Duh mau tidur saja kok repot. Hari kedua saya mulai sakit dan di desa ini tidak ada apotik. Sedangkan untuk kabur ke Paris, harus menelpon taxi yang datang 45 menit kemudian, dan harus bersiap-siap mengeluarkan dana sebesar 80 euro (atau 1.1 juta rupiah) sekali jalan. Tentu saja saya langsung ciut dan memilih merana di Ermenonville. Saat itu saya menjadi sangat kangen dengan alam tropis negeri sendiri.

Pada hari ke empat, adik saya akhirnya menyampiri ke Ermenonville. Tidak terbayangkan senangnya ketika adik saya menelpon mengatakan kalau dia sudah sampai di luar pagar chateau. Kami langsung berpeluk-pelukan dan teriak-teriak senang apalagi sudah hampir setahun lebih kami tidak bertemu. Perjuangan adik untuk sampai ke chateau patut diacungi jempol. Dengan modal 1.50 euro dia sambung menyambung naik kereta, berjalan kaki selama hampir 2 jam di malam buta tanpa penerangan lampu jalan, kesasar, sebelum akhirnya hitchhike bis charter-an yang lewat dan di drop langsung di depan pagar. So proud of you, Sis!

Setelah sukses menyelundupkan dia ke kamar, kami pun tertidur dengan iringan musik dari laptop saya. Alunan bambu suling sunda dipilih oleh adik saya untuk melampiaskan rasa kangennya dengan negeri tercinta. Jadilah kami tidur membayangkan sawah dan kerbau, bukan pemandangan danau dengan angsa-angsa di depan jendela kamar saya.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
No Comment
+ add comment | tags Tags :
25 Jul

Daddy’s Lil Devil

at July 25th, 2008 by | permalinkpermalink | category Posted in Culture, Home Affairs

Saya dan Kris sepakat untuk mengkoordinasi segala urusan pernikahan kami sebisa mungkin berdua. Walau keluarga, teman dan tentunya tim WO Janna Baci yang professional dan selalu ceria, turut gotong royong menyumbangkan tenaga, tetapi segala ide detil dan konsep acara diurus langsung oleh kami. Semuanya Alhamdulillah berjalan mudah dan lancar bahkan selama mempersiapkannya saya dan Kris tidak berselisih pendapat sedikit pun. Berbeda sekali kasusnya antara saya dan Papa.

Pernikahan kami adalah pengalaman pertama orang tua saya mantu. Sehingga Papa rasanya ingin sekali menuntaskan segala impiannya menggelar baralek gadang pada acara mantu pertamanya ini. Sayangnya saya adalah produk melting pot. Papa dan Mama berbeda suku. Saya lahir dan besar di Jakarta, kota dimana beragam budaya Indonesia berbaur dan beradaptasi. Masa kuliah tidak saya jalani di Indonesia. Jadilah saya menginginkan sesuatu yang pot pourri, a bit of everything to reflect my life and Kris’ too of course. Akhirnya saya lebih sering berantem dan debat seru dengan Papa.

Papa: Tidak bisa Kris di jampuik di hotel, harus dari rumah. Begitu adatnya.
la: Lha, kan rumah Kris di Bandung, acara akad di Jakarta.
Papa: Ya nanti kita cari lah rumah siapa di Jakarta yang dekat dengan masjid acara akad.
la: Berarti bukan rumah Kris juga dong, Pa.
Papa: Ya kan pura-puranya itu nanti jadi rumah Kris.
la: Kalau pura-pura aja, kenapa hotel tidak boleh?
Papa: Kalau dari hotel sudah nanti jadi tontonan orang, jampuik itu harus turun dari rumah. Itu adatnya, jangan kamu rubah-rubah seenaknya.
la: tapi kan bohong-bohongan juga dan sama aja ngga sesuai adat dong.
Papa: Pokoknya nanti Papa yang urus Kris turun dari rumah mana, sesuai adat.
la: hmmmm, kalau begitu belikan saja kami rumah nya dulu biar ngga pura-pura dan lebih sesuai adat.

Tidak heran dalam beberapa “jatah” untuk memberi nasehat kepada pengantin, Papa memanfaatkannya semaksimal mungkin. Sekali ketika pengajian keluarga, sekali lagi ketika akad nikah. Mungkin dalam hati dia pikir kesempatan nih bisa ngomelin anak dan tidak mungkin dibantah. Tidak mungkin saya balas omongan Papa di depan sejuta umat? Jauh-jauh hari Papa bilang ke Penghulu bahwa nasehat pernikahan akan disampaikan sendiri olehnya, bukan oleh Penghulu seperti pada umumnya. Setiap kali kesempatan untuk memberikan nasehat tiba, teksnya sudah disiapkan dengan baik diketik dan tersusun tebal dan rapi dalam folder kertas manila. Setiap nasehat disampaikannya dalam waktu tidak kurang dari 20 menit. Ya, Papaku sekali Dosen tetap Dosen!

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
2 comments
+ add comment | tags Tags :
Page 85 of 88« First...1020308384858687...Last »
11