skippin' troupe
rss
4 Aug

Kutaku Kotor

at August 4th, 2008 by | permalinkpermalink | category Posted in Indonesia

Bali selalu membangkitkan spontanitas. Kalau ada yang berseru kepada saya bahwa mereka akan ke Bali, biasanya langsung terdengar saya menyahut “asyiknyaaa, ikut dong”. Walhasil saya sudah beberapa kali berlibur ke pulau dewata. Bali menjadi alternatif tempat liburan favorite yang terjangkau terutama untuk urusan budget.Tahun ini saja saya sudah dua kali ke Bali.

Dulu saya sangat menikmati pantai Kuta. Bermain ombak ketika liburan bareng teman-teman. Penginapan murah meriah yang bertebaran disekitarnya. Toko yang seolah menjual semua barang yang saya suka dari kacamata cengdem sampai baju ringan melambai yang feminin. Restoran dan kafe nya yang seringan serba pas. Pas rasa hidangannya, pas variasinya, pas porsinya, pas atmosfer nya dan pas harganya. Sampai empat tahun yang lalu saya masih menikmati daerah Kuta dan Legian.

Kuta Beach, Bali

 

Tetapi dua kali terakhir saya ke pantai Kuta dan menyusuri jalan Legian buat darah saya mendidih. Pantai Kuta kotor sekali. Jangankan bermain ombak, berjalan di pantai nya saja saya malas. Bungkus aluminium dari bekas chips seperti Taro atau Chiki, bekas kotak atau botol minuman, sampai kulit jeruk berserakan di pantai. Kondisinya membuat saya ogah disuruh melintasi pantai tanpa alas kaki.

Keadaan sepanjang jalan Legian hampir sama nasibnya dengan pantai Kuta. Tumpukan sampah menggunung hampir setiap dua meter. Bahkan ketika jam enam pagi saya mulai berjalan keliling, beberapa penduduk lokal dengan sengaja menumpahkan sampah rumahnya yang berisi sisa-sisa sesajen dan makanan persis di pinggir jalan raya. Rasanya saya ingin marah-marah kepada mereka.

Blue Ocean Beach, Kuta - Bali

 

Saya harus berjalan agak jauh sampai menemukan daerah yang agak mendingan. Melintasi pantai Kuta, pantai Legian, persis sebelum sampai pantai Seminyak ada pantai Blue Ocean. Baru disitulah saya melihat tempat pedestrian yang lebih bersih dan terawat. Dari kejauhan tampak pantai nya juga cukup bersih (karena trauma melintasi Kuta yang kotor saya memilih berjalan diatas aspal). Mungkin juga daerah ini lebih bersih dan terawat karena sedikit sekali tempat belanja di daerah ini.

Entah sampai kapan kawasan ini dapat bertahan seperti saat saya menikmati sarapan yang enak dan murah di restoran Blue Ocean. Saat itu menikmati pemandangan ombak yang bergulung dan pecah di bibir pantai dari meja makan dapat membuat saya lupa sejenak dengan pantai Kutaku yang kotor.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
No Comment
+ add comment | tags Tags : Tags: ,
29 Jul

Wedding Album

at July 29th, 2008 by | permalinkpermalink | category Posted in Culture, Home Affairs

Karena permintaan beberapa teman dan saudara (hihii… ge-er sekali yaaa), maka dibuatlah wedding album ini. Sekalian menjadi ajang untuk review vendors, siapa tahu bermanfaat buat calon-calon pengantin.

Pre-wedding chaos

Saya dan Kris mengkoordinasi segala persiapan wedding kami berdua. Seperti kebanyakan calon pengantin lain, kami menginginkan pesta yang “kami banget”. Dari memilih desain undangan, tema pesta, menu resepsi, bikin baju, beli bahan seragam, belanja seserahan, sampai memilih bunga untuk dekorasi, kami lakukan berdua. Dibantu dengan keluarga dan tim dari WO Janna Baci semuanya berjalan seru dan menyenangkan. Selama 6 bulan mempersiapkan kami jadi lebih sering tertawa daripada berantem.

Kris lah yang membaptis Merah Tiga Negeri sebagai tema pernikahan kami. “Merah Tiga Negeri: Nagari, Negoro, Nagara” is a bow to our parents heritage. Ayah saya berasal dari Ranah Minang, Ibu asal Jawa Tengah, sedangkan keluarga Kris aseli Sunda. Acara pernikahan kami mengambil unsur-unsur budaya dari ketiga daerah tersebut. Di akad nikah kami mengenakan pakaian kebesaran Lintau. Saat resepsi penerima tamu kami yang cantik-cantik berdandan a la iteung. Dan segalanya diikat dengan warna merah dari baju yang dikenakan keluarga besar sampai hanya buah-buahan berwarna merah yang dihidangkan. “Mba, dipekarangan Tanteku ada pohon buni, kalau pas berbuah nanti saya petikin deh,” janji Tante Mercy yang menyediakan catering.

Dan inilah catatan visual langkah kami menuju pelaminan.

Pre-wedding

pic by Arif Ariadi

 

Pictures:
Sebenarnya saya dan Kris tidak tertarik untuk membuat pre-wed pictures. Bagi kami selain pemborosan, kok kesannya sangat tidak alami. Mungkin memang masalah selera, tapi seandainya saya berniat ke pantai saya jamin saya akan mengomel kalau disuruh mengenakan gaun putih apalagi berkebaya lengkap dengan full make up. Tetapi seorang teman, bekas roommate Kris, kebetulan mantan fotografer AFP dan sekarang bagian dari tim komunikasi handal sebuah lembaga, ingin memberikan kami kado pernikahan. Dia menawarkan concept pre-wed pictures journalistic style. Every picture is candid. Teman kami ini mengikuti aktivitas kami ketika mendesain undangan, belanja kain di pasar, memilih bulu burung kasuari, rapat panitia, dan tes make-up.

Pada acara resepsi, foto-foto ini dicetak black-n-white. Ditampilkan sederhana dengan frame acrylic sehingga menimbulkan kesan melayang dan lapang. We absolutely love the present!

Babako dan pengajian keluarga:

Jam setengah 6 pagi, sepupu saya dan istrinya menjemput saya untuk dibawa ke rumah keluarga besar dari pihak papa. Disana sudah berkumpul saudara kandung dan sepupu Papa. Begitu sampai saya digiring masuk kamar untuk didandani dengan baju adat. Setelahnya saya dinasehati sebelum kemudian dikembalikan ke orang tua saya.

When I got all teary

Awalnya, keluarga menginginkan acara inai dan pengajian pada malam sebelum hari H. Usulan ini saya veto, karena ingin tidur cukup sebelum hari istimewa saya. Untung permintaannya dikabulkan, jadilah pengajian keluarga menyambung setelah acara Babako, sedangkan malam bainai ditiadakan. Jauh-jauh hari, papa berpesan agar saya menyiapkan testimonial memohon maaf kepada orang tua yang akan dibacakan setelah babako dan pengajian. Pesannya harus yang menyentuh ya. Selalu saya jawab gampang, sebentar juga beres. Yang terjadi kemudian saya lupa. Pada hari H, saya go live tanpa script memohon maaf kepada orang tua dan disampaikan dalam waktu 5 menit. Giliran Papa berikutnya menjawab permohonan maaf saya. Papa saya memang jagoan. Beliau sungguh memang tidak mengecewakan. Selain sudah menyiapkan sekitar delapan lembar nasehat yang diketik rapi olehnya sendiri, ketika papa membacakan nasehatnya, semua keluarga besar menangis haru. Saya tersedu-sedu habis-habisan. Sepupu saya mengatakan itulah pidato terpanjang papa yang pernah disampaikan (papa memang langganan memberi sambutan dan doa di hampir setiap acara keluarga dari pernikahan sepupu sampai buka puasa bersama), juga yang terindah yang pernah ia dengar.

Akad Nikah dan Resepsi

Gedung:

Akad nikah berlangsung di Al-Bina. Lokasinya strategis ditengah kota dan dekat dengan tempat resepsi kami di Klub Golf Senayan. Manajemen masjid nya pun sangat kooperatif. Akad nikah kami dijadwalkan jam 14:00 hari Jum’at. Ketika tim dekor saya datang jam 13:00 lewat, gedung dan pekarangannya sudah bersih dari sisa shalat Jum’at dan siap untuk digunakan. Ternyata fotografer-fotografer kami pun senang karena tatabangunan nya ternyata sangat memudahkan untuk mengambil gambar yang unik. Nilai vendor: 9/10

Klub Golf Senayan Clubhouse

Resepsinya diselenggarakan di Klub Golf Senayan. Kami puas dengan gedung ini. Cantik, strategis, beda, manajemen yang kooperatif, dan tidak memiliki banyak rekanan. Pak Arifin, sang Manajer benar-benar helpful dan fully accessible. Kekurangannya hanya satu, tempat parkir yang kurang luas. Nilai vendor: 8.5/10

Make-up:

Urusan make-up dikerjakan oleh dua vendors. Untuk acara adat, dikerjakan oleh Oom Buchyar yang juga masih saudara. Sedangkan untuk acara resepsi, pengantin, keluarga, dan penerima tamu semuanya di make-up oleh tim Mba Novi Arimuko. Tim Mba Novi sangat ramah dan helpful, dari mulai tes make-up sampai ketika ada miskomunikasi menjelang akad. Menurut saya pribadi semua yang di make-up oleh asisten Mba Novi jadi cantik-cantik dan manglingin. Mba Novi nya sendiri cukup seru mengajak saya ngobrol ketika mendandani jadi bikin saya santai. Hasilnya make-up nya, silakan dilihat saja.. Nanti ada yang tidak rela lagi kalau saya menilai diri sendiri. Hehehe… Nilai vendor: 9.5/10 (untuk Tim Novi Arimuko)

Kebaya resepsi:

Teeas Rubismo. Waaaah Mba Teeas ini ok banget deh. Bikin kebaya nya super cuantik cuantik… dengan harga yang reasonable. Saran saya, kalau mau bikin di Mba Teeas, minimal 3 bulan sebelum hari H. Nilai: 9/10

Dekorasi:

Dekorasi baik untuk akad dan resepsi dikoordinasi oleh Janna Baci (JB). Floral arrangement seluruhnya oleh JB sedangkan untuk pelaminan adat saat akad dan babako disediakan oleh tim Buchyar Dekorasi. Pada saat resepsi, kami membagi ruangan gedung menjadi tiga tema. Yang pertama adalah ruang Melayu dengan live music lagu pop dan lagu-lagu melayu. Ruangan kedua, sasaungan sunda. Dekorasinya serasa ditengah sawah dengan musik kecapi suling yang mendayu-dayu di ruangan ini. Yang terakhir adalah coffee bar karena Kris dan saya penggemar kopi. Kami meminta coffee bar ini di dekor a la Parisian cafe dengan lagu-lagu yang easy listening menguasai atmosphere ruangan. Nilai vendor: JB = 8/10, Buchyar= 7.5/10.

Catering:

Bayu Catering pimpinan Ibu Mercy. TOP! Saya tidak ada complaint sedikit pun mengenai catering. Makanan berlebih, semuanya enak pula (menurut pengakuan banyak tamu), dekor yang nyambung dengan tema, kerja yang cekatan, dan harga reasonable. Semua pekerjanya dari Tante Mercy sampai waiters ramah, rapi dan cepat. Dua bulan setelah acara, masih banyak teman yang menghubungi saya maupun mama menanyakan siapa catering resepsinya. Benar-benar bintang vendor acara resepsi saya deh. Nilai vendor: 10 and half /10 (hehehe maksa).

MC dan Entertainment:

MC nya sahabat saya sendiri. Ambon manise yang lebih suka dikenal sebagai arek Madura, Mega. Alasan saya memilih Mega bukan karena dia sahabat dan saya ingin bagi-bagi rezeki. Tapi Mega memang professional MC, memiliki EO sendiri sehingga paham serunya (baca: ribet nya) acara pernikahan. Nilai vendor: 9/10.

Untuk entertainment saya contact Tata, penyanyi tetap di Grand Mahakam Hotel dan Harris Hotel. Karena saya selalu menikmati performance Tata kalau sedang hang out dengan teman-teman di lounge Grand Mahakam, saya percayakan saja semua urusan live entertainment ke dia. Hasilnya Tata dan teman-teman (pianist, saxophonist dan guitarrist) sukses menahan tamu-tamu saya sampai jam setengah sepuluh malam. Bahkan salah satu tamu yang masih saudara jauh harus dipaksa pulang karena keasyikan mendengarkan Tata and friends. Nilai vendor: 9/10 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
3 comments
+ add comment | tags Tags :
Page 84 of 88« First...1020308283848586...Last »
11