Wok-A-Holic Resto Review: Warung Kopi Purnama, Bandung
Jl Alkateri No 22, Bandung
Aaaahh.. serasa lagi di ruang makan rumah kakek-nenek dulu, begitu pikirku ketika masuk ke Warung Kopi Purnama di Jl. Alkateri, Bandung.
Nuansa tempoe doeloe sangat kental terasa karena memang dari dulu sampai sekarang interior dari warung ini tidak berubah banyak. Meja marmer, kursi kayu sederhana minim ukiran, pintu yang dicat krem muda mengkilat, dan ada jendela berteralis dengan tirai setengah tiang.. persis seperti rumah kakek-nenek saya dulu. Berada didalamnya seperti terhenti di tahun 70-an.
Melirik pengunjung yang datang sepertinya mereka punya pelanggan tetap setia. Di satu meja seorang pria asyik sendiri menyantap sarapannya sambil membaca koran. Di meja lain satu keluarga seru dengan berbagai hidangan sederhana tanpa hiasan mawar dari tomat atau pohon dari wortel yang disajikan diatas piring putih polos. Dipojok yang lain beberapa teman asyik mengobrol kesana kemari dengan baju santai. Semua pengunjung memberikan kesan kalau mereka serasa berada di rumah sendiri.
Pilihan hidangannya cukup beragam dengan harga terjangkau tapi rata-rata lebih cocok untuk sarapan atau brunch. Kami memesan dua cangkir kopi, Pisang Keju dan Roti Gulung Telur Isi Keju. Semua pesanan datang cepat dan tetap dengan tampilan sederhana. Sama lah seperti kalau kita buat sarapan sendiri di rumah, jarang-jarang kan dihias dengan burung angsa dari lobak? Soal rasa standar aja.
Beberapa saat ada penjual dari luar warung menawarkan kembang tahu yang langsung kami iyakan. Ternyata manajemen warung memperbolehkan pedagang gerobak dari luar menjajakan jualannya ke tamu mereka dan sebelum jam 9 pagi pasti ada pedagang kembang tahu ini. Porsi kembang tahunya lumayan mengenyangkan dan aaaahhh… sungguh enak menikmati yang hangat dan manis di pagi hari kota Bandung.
Caution: Warung Kopi Purnama juga menyuguhkan hidangan non-halal jadi ketika memesan pastikan apakah makanan tersebut halal atau tidak.
Terkadang saya merasa bersalah karena meninggalkan Raissa untuk bekerja. Rasanya waktu untuk bercengkrama dengannya sangat sedikit. Saya takut kalau nantinya Raissa akan lebih dekat ke Uo (nenek) atau pengasuhnya daripada saya. Karenanya saya memilih pengasuh yang pulang hari. Setiap hari dia pulang sebelum Maghrib dan Sabtu-Minggu libur, tentunya agar saya bisa bebas mengasuh Raissa sendiri. Memang jauh lebih sedikit jatah waktunya bila dibandingkan dengan ibu lain yang tidak bekerja, tapi untuk saat ini, the current arrangement works ok.
Salah satu cara saya menunjukkan rasa sayang ke Raissa adalah dengan membuat sendiri makanan Raissa sebisa mungkin. Apalagi menu untuk dia sangat mudah. Kupas, rebus, lumat, hidangkan/simpan. Sungguh menyenangkan menuangkan berbagai jenis bubur susu untuk seminggu ke dalam containers kecil. Resepnya saya contek dari buku-buku resep karangan Hindah Muariz.
Malam ini tambahan menu a la carte untuk Raissa:
1) bubur susu beras merah pisang
2) bubur susu labu kuning apel
3) bubur susu kentang pear.
Besok sepertinya bubur susu ubi merah wortel dan bubur susu jagung cantaloupe. Atau bubur susu kacang kedelai? Alhamdulillah, Raissa termasuk anak yang mudah makan dan resep-resep diatas cocok untuknya. I love you, my little miss sunshine.