First… senaaangg, sarang burung kita sudah mulai berbentuk seperti desain arsitek/interior, tentunya setelah beberapa modifikasi dari Kris dan saya demi menekan budget. Maksudnya sih awalnya ngurangin ini-itu biar budget penawaran dari kontraktornya jadi berkurang, tapi selama pengerjaan oleh kontraktor akhirnya ada juga lagi modifikasi “penambahan” oleh kami yang ujung-ujungnya, budget naik lagi ajah! Pusiiiiinggg.. Haiyaaaaa… susah ya kalau duit cuma sedompet bukan sebakul.
Terus karena saya keseringan browsing di internet jadi semakin banyak punya ide “brilian”
hasil inspirasi dari cuci mata itu, kadang bikin repot sendiri buat implementasi nya. Bukan soal biaya saja, tapi dari segi ketersediaan tempat dan dari segi pengerjaan. Contohnya ya urusan kamar mandi yang ukurannya smaller than tiny. Beneraaaan, KM di sarang burung ini beneran mungil ngga kaya hasil pencarian google yang sudah pakai kata kuncil smallest bathroom tapi yang muncul gambar bathroom sink segede meja kerja lagi nangkring *cape deeeeh..* kalau kasus di sarang burung, saking kecilnya sampai ngga bisa deh merentangkan tangan terus muter 360 derajat kecuali mau tangannya biru-biru kepentok macam-macam. Tapi kami (ehm saya tepatnya) maunya di KM itu ada sink (kecil), toilet, shower lengkap dengan tempat penjembrengan obat cantik dong, tempat menyimpan stok handuk, gantungan baju, sedikit pot tanaman kecil, dan kalau bisa poster-poster apalah yang bisa menimbulkan kesan ceria. Mungkin kaaah?? Insya Allah… susah, almost impossible! hahahaha
marilah kita lihat hasil akhirnya nanti, apa saja yang bisa hadir di KM mungil itu.
Pindah ke dapur. Rata-rata interior desainer lain yang mengerjakan unit tetangga bikin kitchen table sepanjang 120cm saja utk diisi sink, kompor 2 tungku model domino (posisi tungkunya atas dan bawah, bukan berdampingan) dan sedikit tempat buat mempersiapkan bahan masakan. Pesanan saya jadinya 160-an cm karena ngotot mau punya oven tanam. Waktu Kris dan Papa aka Datu’ Raissa tanya buat apa sih ngotot mau punya oven, daku jawab “ya kan kalau bikin ayam panggang dan kue-kue lebaran perlu oven!”
Krisis terakhir yang sedang digarap solusinya adalah tempat penyimpanan water dispenser. Padahal sudah beli yang model kecil buat ditaruh diatas meja bukan yang standing, tapi tetap pas saya sadar untuk mikir mau ditaruh dimana dan ngotot mengantarkan barangnya (yang sudah dibeli dari 3 bulan lalu) hari ini, kontraktor, Kris, Papa aka Datu’ Raissa dan si adik ikut pusing cari tempat. Kalau solusi dari Papa dan si adik, ngga usah dipakai aja water dispenser-nya, sarannya kalau mau air panas ya masak aja pakai hotpot terus disimpan di termos kalau mau bikin stock, kalau mau air dingin ya masak air terus simpan di kulkas. Kris ngga setuju dengan idenya karena “sudah beli mahal-mahal” jadi masih mau maksa memajang dispenser di… tunggu penampakannya nanti
Yang pasti saya sudah wanti-wanti space secuil untuk sofa/lesehan di living room sudah harga mati dan tidak boleh dikutak-katik walaupun hanya 1cm.
Doakan ya.. semoga kami mengalami berpuasa tahun ini di sarang burung. Aamiiin…
.. is hard to forget; and my first time delivering a baby was at Asri Hospital on Jalan Duren Tiga. I had a great experience there, like what I’ve written here. I even said then if I am given another chance in delivering a baby, I would choose Asri without hesitation.
However, that might not happen again. Kris asked me that for our second child I see a female obgyn for control and later for the baby delivery. It means I have to “divorce” my last obgyn as he is, well, a he. Then, I asked Asri to provide me with name of female obgyns that have evening schedule and they came up with only one name whose schedule at Asri is only once a week. Not even an option for me, especially I know this doctor. She’s nice, calm and friendly but she’s too quiet for my taste and almost always arrives late for at least 30 mins.
After googling, I decided to give a try to a new hospital as it has so many female obgyns available there. I tried two and finally stay with one. She’s nice and all that too. Not a problem at all but somehow it’s the atmosphere at Asri that I really miss. This new hospital is also nice but it’s just different from Asri. I feel much at home at Asri, while at this new hospital I feel a bit like a guest, be it a guest to a cousin’s house. So even though it has a certain degree of comfort, it doesn’t make me like I’m part of the (smaller) family.
I’ve tried to lure Kris back to Asri but his answer is firm. I can only if my obgyn is a female. That equals to no point of return as I could not find a female obgyn I like at Asri, let alone one with reasonable (meaning at least 4 days a week) schedule there.
I’m hoping much that time will help me soothe my brokenheart soon. Asri, my first love, you’re damn hard to forget.
*menye-menye mode: ON*
baby hormone, down, down, down, will ya.
Did anyone think I’m going to write about an ex-boyfriend?