skippin' troupe
rss
10 Jul

Takut repot jalan-jalan setelah punya anak? Itu bukan kami.

Teman-teman, mulai minggu lalu, setiap Jum’at ada dua emak-emak keren (uhukkk) yang akan ngoceh tentang suka-duka tapi serunya berpergian dengan anak-anak di Backpackology.

Baca ya. Masukan dan komennya juga kami tunggu lho.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
No Comment
+ add comment | tags Tags :
5 Jul

Hobinya. (Bukan) Hobiku.

at July 5th, 2012 by | permalinkpermalink | category Posted in Bohemian Rhapsody

Kok tiba-tiba ngebahas hobi? Tentunya ada udang pancet dibalik batu. Saat ini satu-satunya orang yang saya tahu punya hobi dan serius menekuninya adalah Kris. Si suami. Hobi nya itu tipe CHLBK alias cinta hobi lama yang bersemi kembali. Kris sekarang lagi getol-getolnya menekuni hobi mengoleksi prangko. Kalau kata orang Aceh, “jaman kali hobinya” (dan artikel ini mulai ditulis saat sedang berada di Aceh). Yang kalau beberapa teman kantor bilang “hah… kuno banget ya bok.”

Awalnya CHLBK adalah ketika sedang beres-beres garasi di rumah ortu saya, dan menemukan album prangko lama saya yang terbengkalai. Setelah secara official barang tersebut pindah kepemilikan menjadi miliknya, kompornya langsung mledug. Siang malam, dimana pun, si suami sibuk berkutat dengan urusan prangko. Dari mengikuti lelang sana-sini sampai ke mancanegara sampai ke toko online barang antik untuk berburu prangko. Hampir setiap bangun pagi, dengan ditemani kopi, Kris akan membuka album prangko dan menyusun prangko-prangko hasil perburuannya. Dari yang awalnya hanya 6 album yang dibeli dengan kehadiran dan kesadaran penuh saya, sampai suatu sore saya iseng menghitung jumlah album yang semakin berjejalan mengisi rak buku di rumah. Dan tercenganglah sang istri ketika hitungan sudah hit angka 20-an. Tambah bengong ketika Kris bilang kalau kardus aqua gelas yang teronggok di kamar isinya adalah ratusan (atau ribuan?) prangko.

Gong terdahsyat sampai saat ini adalah waktu berlangsung World Stamp Championship (WSC) 2012 yang bertempat di JCC. Sejak dimulai tanggal 18 Juni dan berakhir 24 Juni, dari jadwal seminggu itu, total Kris ngapelin JCC yaitu 5 hari. Rombongan sirkusnya (lengkap istri dan 2 bocah batita, atau hanya 1 bocah saja) sempat diboyong untuk mendampingi 3 kali. Hari terakhir rombongan sirkus tidak diajak ikut karena takut “memperlambat” gerak untuk mengumpulkan paspor filateli edisi spesial WSC 2012 ini. Tapi rombongan sirkus senang kok ditinggal buat ngelempengin kaki.

World Stamp Championship at JCC. Visitors would get a “passport” for them to paste stamps from 80 countries and get them postmarked. Fun, but expensive :)

Mmmm… how much did you spend here, Dear?

Di WSC 2012 ini sebenarnya cukup menarik buat rombongan sirkus yang kadar ketertarikan dengan prangko lebih karena visual artistik aja. Pokoknya asal gambarnya bagus, kami ribut menyuruh Kris untuk membeli. Atau kalau yang bentuknya unik seperti bentuk hati atau bulat. Tau ngga, khusus saat WSC 2012 ini, Kantor Pos Indonesia mengeluarkan prangko batik yang beneran ada kain batik sebagai prangkonya. Mereka juga mengeluarkan prangko wayang yang bahannya terbuat dari kulit. Lucu ya!

Tentunya Kris tidak membeli prangko karena gambarnya lucu, biasanya filatelis memilih prangko yang langka. Yang kalau diperjualbelikan harganya mahal. Itu juga alasan Kris mengoleksi prangko, katanya karena juga bisa dilihat sebagai investasi. Kalau kata saya, bebas aja, pembelaan dirinya tidak saya butuhkan kok sebenarnya. Melihat Kris yang suka kerja lembur sampai tengah malam, menekuni hobi yang memberinya kesenangan adalah sesuatu yang lebih dari pantas. Eh tapi jangan beli prangko harga 80 juta itu yeh, Dear. Do not even think about it! Kalau sampai lolos nemu prangko harga 7 motor buat bikin armada ojek, bisa harakiri diriku. Kok ya bisa ngga tau ada 80 juta nganggur di rekening. Kalau tau kan udah bisa sebulan kelayapan di Afrika bagian utara.

Nah setiap saya cerita tentang hobi baru tapi lama Kris mengoleksi prangko, banyak yang merasa tersambar gledek. Tiba-tiba sadar dan beberapa teman mulai bersahutan: “hobi gue apa ya?” “kok gue ga punya hobi sih?” “aduh inget masa-masa hobi ngoleksi pensil. kemanaaaa itu koleksi sekarang”. Sampai ada yang bilang “gue juga pengen punya hobi lagiiiii.”

Memang kalau nyebut kata hobi, pikiran ini kebawa ke masa kanak-kanak. Jaman SD mengoleksi kertas surat. Dulu lihat kertas surat Sanrio, apalagi yang wangi, rasanya bahagiaaaaaaa banget. Mau ke rumah tetangga bawa-bawa folder isi kertas surat koleksi biar bisa pamer dan tuker-tukeran koleksi terbaru. Trus dimulai pas SMP kayanya waktu dapet oleh-oleh boneka beruang. Sejak itu niat banget menghemat-hemat uang saku biar bisa beli segala boneka dan pernak-pernik yang ada gambar beruang. Minta kado ulang tahun pun sesuatu yang berhubungan dengan beruang. Sampai pergi kuliah dan hobi nya berhenti. Koleksi yang ditinggalkan digabung di satu plastik besar sama papa dan disimpen di gudang. Cuma disisakan 1 boneka aja. Boneka beruang oleh-oleh yang membuat saya kecil memulai hobi mengoleksi teddy bear and all things with bear prints. Selain dua hobi diatas, sempat juga ikut-ikutan tren koleksi prangko. Ada ngga sih anak-anak yang pernah mengidolakan Chica yang ngga koleksi prangko? (dan terbongkarlah usiaku…)

Tapi sekarang, kalau ditanya apa hobinya? Bingung jawabnya. Mau jawab baca buku… kok ga pas. Memang demen sih baca-baca buku tapi kayanya lebih benar kalau bilang ngumpulin buku. Laaah habiisss,  itu 5 buku yang sudah dimulai baca dari setahun lalu kok masih belum ada yang ditamatkan. Tapi masa buku dikoleksi, buku kan dibaca. Kaya prangko kan diburu, disusun, diliatin, malah bisa dipamerin. Kalau buku kan ga bisa.

Mau bilang hobinya travelling kok ya juga ngerasa kurang pas gitu bilang jalan-jalan sebagai hobi. Jalan-jalan, apalagi mengunjungi tempat baru, bukan sekedar hobi tapi lebih sebagai passion. Bedanya? Pokoknya bedaaaa aja. Hobi yang lagi dibahas disini adalah hobi mengoleksi sesuatu yang bisa disamperin, dikerjain dengan sering dan instan. Seperti Kris dan koleksi prangkonya. Atau seorang pengacara kondang dengan koleksi mobil mahalnya. Bisa kapan aja berasyik masyuk dengan hobinya itu.

Kayanya saya harus segera menemukan hobi mengoleksi juga deh. Biar ga sirik liat Kris yang selalu punya topik untuk dibahas dengan antusias. Seperti prangko dengan tulisan repoeblik atau republik. Yang pinggir bergerigi atau yang unperforated. WFP stamps… Vienna prints… Riau overprints… Akhirnya jadi kebawa tau juga deh sedikit-sedikit tentang prangko. At least prangko yang bisa masuk kategori investasi. Diakhir cerita, ada seseorang yang memberi komentar atas nasib orang tanpa hobi seperti saya, tapi lama-kelamaan jadi agak ngerti juga tentang prangko. Katanya “itu cinta. Betah diocehin hampir 24 jam tentang sesuatu she has little interest on.. itu cinta.”

Kata saya, cinta kalau besok-besok dimodalin untuk mulai koleksi jam limited editions yang bling-bling, Kris.

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
6 comments
+ add comment | tags Tags :
11