skippin' troupe
rss
2 Nov

Raissa Sibuk Apa?

at November 2nd, 2012 by | permalinkpermalink | category Posted in Home Affairs, parenthood

Sudah lama pengen update cerita anak Kelompok Bermain Besar (KBB) ku tapi dasar emak pemalas berkedok sok sibuk, jadilah baru sekarang nulisnya.

Waktu awal memindahkan Raissa ke KBB Rising Stars yang jadwalnya hanya 3 jam setiap hari, sempat  mikir bagaimana Raissa bisa menghabiskan sisa waktunya di luar sekolah dengan baik. Kalau di daycare dulu kan lebih pasti kalau waktu santai atau bermain pun ada unsur belajarnya. Mainan yang tersedia berjubel, buku-buku bertebaran, guru-guru dan caregivers nya selalu mendampingi anak-anak melakukan kegiatan yang positif seharian penuh. Mulai dari mewarnai, bernyanyi, atau sekedar jumpalitan.

Dari porsi 9-10 jam sehari ada yang menemani main, terus turun jadi 3 jam saja sehari dan sisanya bebas mau ngapain tanpa ada pendamping, deg-deg an juga takut anaknya bosan atau malah jadi couch potato. Ternyata setelah 3 bulan lebih bermain dan belajar di Rising Stars, rutinitas baru yang dinikmati oleh Raissa sekarang sudah terbentuk.

Selain jadwal official, Raissa ikut 2 ekskul optional yang ditawarkan sekolahnya. Ekskul berenang sesuai keinginan anaknya, dan ekskul Bahasa Inggris sesuai keinginan saya. Kenapa kayanya saya ngebet banget pengen Raissa bisa Bahasa Inggris? Karena itu suatu kemampuan yang menurut saya bermanfaat untuk dia nantinya. Kelas tambahan Bahasa Inggris yang diadakan di sekolahnya pun menurut saya kadarnya tepat. Hanya seminggu sekali dan hanya 45 menit per sesi. Jadi tidak menuntut waktu terlalu banyak dari anaknya. Mungkin ada yang berpendapat kalau pertemuan sejarang itu kapan anaknya bakalan fasih Bahasa Inggris? Well, she’s only three so she has so much time to pick up the pace later. Apalagi saya juga suka melatihnya berbahasa Inggris di rumah. Jadi frekuensi belajar bahasa asing secara formalnya sudah cukup lah untuk saat ini.

Untuk kelas renang, anaknya sendiri yang minta sejak melihat kolam renang di sekolahnya. Raissa memang sangat suka berenang dan saya senang kalau anak saya sporty. Kebetulan saya cocok dengan program ekskul renangnya karena kolam renangnya private dan tidak besar sehingga mudah memantau anak-anak yang baru mulai belajar berenang, dan lagi-lagi jadwalnya hanya sekali seminggu. Ratio antara instruktur (yang juga guru di Rising Stars) dan anak pun hanya 1:2, jadi para instruktur itu sanggup merayu dan ngeladenin kemanjaan anak-anaknya. Namanya juga anak balita yaaaa, wajarlah suka manja-manja, teriak-teriak centil, atau males-malesan melatih gerakan kakinya. *lirik Raissa*. Hasilnya sekarang Raissa sudah bisa berenang jarak pendek pakai papan sambil membuang napas di air. Terakhir dia lagi mulai latihan meluncur sekali tolakan dari instruktur ke dinding kolam. Senang deh liat my little prodigy berkembang dan punya kemampuan baru. Dan buat saya hitung-hitung les renang ini sebagai investasi awal agar anaknya terbiasa berolahraga dan hidup sehat.

Dengan dua ekskul tadi sebenarnya saya sudah cukup puas dengan “kesibukan” Raissa. Rasanya waktu belajar dan bermain dia sudah cukup seimbang tapi dasar memang emak dan anak suka sok sibuk. Mulai awal Oktober kemarin Raissa tambah sibuk lagi. Gara-garanya lihat pengumuman guedeee banget di dinding masjid apartment. Pengumuman ngajak anak-anak umur 2-12 tahun ngaji bareng 1.5 jam setiap sore, Senin – Kamis. Tanya-tanya ke pengurus masjid soal biaya dan jadwal, ternyata kelas nya benar cair dan super flexible. Kalau mau datang seminggu sekali, boleeeehh.. seminggu 2x, juga boleh.. mau datang 3x, juga boleh… kalau seminggu 4x, yang mana maximal pertemuan dalam seminggu ya tentu bowwleehhh. Mau seminggu sekali di minggu ini, dan 3x minggu depan.. ya suka-suka situ aja. Pokoknya bayaran per bulan nya tetap 60rb. Aaaahh hati ini langsung luluh.. hanya 60rb/bulan saja sodara-sodara! Saya tanya ke Raissa apakah dia mau belajar ngaji? Anaknya jawab ga pake lama bilang “MAU!” Alhamdulillaaaaah, hayuk lah Nak… cuma 60rb juga gitu.

Saya hanya mewajibkan Raissa untuk hadir di kelas ngaji 2x seminggu, yaitu di hari-hari dimana dia tidak ada ekskul Bahasa Inggris atau renang. Taunya anaknya senang banget pergi ngaji, jadi sudah sebulan ini, Raissa setiap sore ke mesjid buat ngaji dari Senin-Kamis, dan baru bolos 1x itu pun gara-gara saya yang lupa waktu ngajakin anak-anak kelayapan. Kelasnya ngajinya memang benar-benar santai ala anak pantai gitu. Belajar iqro’nya palingan cuma 5 menit, sisanya mereka bebas mewarnai atau trace huruf hijaiyah di modul yang dibagikan gratis atau dibuku mewarnai yang dibawa sendiri. Pokoknya benar-benar suka-suka. Hanya 10 menit diawal dan 10 menit diakhir kelas mereka akan belajar menghapal doa-doa sehari-hari dan doa-doa pendek dan menyanyi bersama.

Hampir setiap pulang sekolah Raissa nanya apakah dia akan langsung ngaji. Mungkin karena sangat santai programnya ya, jadi ngga berasa kaya lagi belajar, ngerasanya kaya lagi main-main aja. Apalagi jumlah muridnya banyak, sekitar 20-an. Jadi dia senang karena punya teman main banyak. Untuk kemajuan mengajinya Raissa sendiri sih memang ngga cepat. Setelah sebulan, iqro’nya baru sampai huruf “kho”. Ngga pa-pa lah, kita ngga kejar tayang buat mendaftarkan Raissa ikutan lomba MTQ kok.

Belajar iqro’ sama Ustadzah

Sibuk banget ngga sih anak KBB-ku? Iya kayanya.. ngga sesuai dengan rencana awal yang ngga mau anaknya ikut berbagai les. Ndilalaaaah.. anaknya malah yang minta ikut ini itu. Ya sudah… selama masih ada waktu buat anaknya tidur siang di rumah dan main, masih masuk akal sepertinya kesibukan bocah satu ini. Setidaknya lebih mendingan dibandingkan waktu saya kecil yang seringan tidur dan makan siang di mobil karena sibuk ikut les di tempat yang nyebar. Sedangkan tempat kegiatan Raissa masih sekitar apartment. Anaknya menikmati punya aktivitas yang positif, di lingkungan yang baik, dan harganya ngga bikin kepala ortunya botak (tetepppp UUD), tentu sangat disyukuri.

May you grow happy and healthy, my rising star. 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
No Comment
+ add comment | tags Tags :
31 Oct

Indonesia lalu Dunia

at October 31st, 2012 by | permalinkpermalink | category Posted in Bohemian Rhapsody, Home Affairs, parenthood

Tadi pagi iseng meng-survey Kris. Transcript dibawah ditulis dengan ingetan seadanya.

L: Kris, kalau seandainya ya.. kita punya pilihan menetap di luar Indonesia atau tinggal di Indonesia, mau yang mana? Tapi jawabnya memikirkan kondisi kita sekarang ya. Dengan 2 anak gini. Trus, kesempatan menetapnya di negara yang aman damai sentosa lah, macam Swiss gitu deh. Dapet kerja di kantor UN Geneva gitu misalnya.

K: Tinggal di luar maksimal 5 tahun aja, setelah itu balik ke Indonesia lagi.

L: Kenapa, Pa?

K: Ya, aku pengen aja berkontribusi buat Indonesia. Kalau tinggal di luar yang banyak menikmati kontribusiku ya negara lain.

L: Anak-anak gimana? Kalau tinggal di luar mereka kan bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik kalau tidak yang terbaik di dunia.

K: Terus kenapa? Gunanya mendapatkan pendidikan yang katanya terbaik itu apa? Mereka akan jadi apa? Apakah menjadi yang terbaik hanya dengan pendidikan yang terbaik? Sudah banyak lah buktinya kalau yang terpintar tidak melulu jadi yang tersukses. Ranking pendidikan yang terbaik kriteria nya apa dan siapa yang buat? Apakah dianggap terbaik karena banyak lulusannya yang bekerja di perusahaan multinasional atau karena mendapat gaji sekian? ITB kadang masuk ranking 10, kadang diurutan 50. Bebas aja lah yang bikin ranking, tapi menurutku sih pendidikan di ITB sudah baik. Aku juga tidak setujunya dengan membesarkan anak di luar karena tidak ingin mereka tercerabut dari akarnya. 

L: ummmmm… akhirnya bisa dapet text alasan2 tanpa perlu mikir *kagumin suami*

Pendapat saya sama Kris sebelas duabelas. Beda tipiiiis gitu. Mungkin Kris lebih mulia karena sepertinya soal menetap di Indonesia dia tidak memikirkan diri sendiri atau keluarganya ya karena kalau membaca jawaban dia isinya untuk Indonesia muluuuuw. Eh maksudnya ya tentu saja dia memikirkan kesejahteraan keluarga, tapi dia yakin bisa memberikan itu dengan berkarya di Indonesia. Sedangkan alasan saya kalau seandainya bisa tinggal di luar negeri ya biar anak bisa bener-bener fasih multilingual layaknya native speaker bahasa asing tersebut, tidak kaya emaknya yang kalau nulis proofreading nya puluhan kali teteppppp ada yang salah atau kurang mengalir. Sedangkan alasan tinggal di Indonesia, tetap buat anak juga. Biar anak bisa lebih banyak juga menikmati fasilitas dan kemudahan hidup. Coba les ini  itu, bisa dapat ilmu agama dengan sumber selain dari orang tuanya, bisa dekat dengan keluarga besarnya, bisa berenang setiap hari… bisa bisa… bisa banyak lah, tapi intinya ya buat anak-anak alasan utamanya.

Jadi, kalau ditanya apakah saya ingin yang terbaik untuk anak dan keluarga tentu jawabannya: TENTU LAAAAHH. Lalu kenapa tidak berusaha mencari kesempatan untuk menetap di luar?

Berusaha mencari kesempatan kerja di luar sih ya ada. Kadang-kadang kirim lamaran ke berbagai kantor organisasi yu-en. Tapi usaha keras sampai melobi kanan-kiri atau nekat pindah tanpa kerjaan yang sesuai hati sih belum kepikiran. Iseng-iseng berhadiah aja. Dan kalau berhasil, ya namanya rejeki anak dan akan membatasi beberapa tahun saja tinggal diluarnya. Karena ya itu tadi, tinggal di luar negeri itu ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bisa 1-2 bahasa asing dan tentunya pengalaman ya biar mereka bisa memiliki pengalaman hidup yang kaya cerita dan warna. Tapi hati kecil ini selalu tahu kalau saya lebih suka kalau anak-anak lebih banyak tinggal di Indonesia sebelum masa kuliah S2 nya (kecuali mereka tidak diterima di Univ yang bagus di Indonesia).

Dan saya menulis ini ditengah kesedihan melihat berita tentang tawuran SMA, bentrok warga di Lampung, bom meledak di Poso, kasus korupsi dll… huhuhuhuuuu.. negerikuuuuh.. negeriku. Tapi saya sadar itu terjadi karena ketimpangan sosial yang berlapis-lapis dan dilakukan oleh segelintir individu atau kelompok. Sumber daya manusia Indonesia ini besar, no 4 sedunia. Perilaku negatif oleh gerombolan-gerombolan itu kecil jumlahnya bila dibandingkan sisa warga Indonesia yang waras, ramah dan cinta damai. Seandainya yang waras, ramah, dan cinta damai ini bisa berkontribusi sedikit-dikitnya dengan menghembuskan energi dan pikiran positif kepada lingkungannya di tanah air ini, itu sudah dapat membantu Indonesia untuk terus memperbaiki diri. Terus berpikir positif, berusaha semampunya untuk menjadi pribadi yang baik saja, dan menganggap semua sebagai saudara akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan. Semoga.

Terbukti juga kalau di negara maju yang seharusnya sudah terpenuhi kebutuhan mendasar masyarakatnya tetap bisa juga kebobolan dengan bom di perkantoran, atau shooting spree di sekolah dan tempat umum. Padahal seharusnya mereka adalah masyarakat yang terpelajar karena akses pendidikan murah atau gratisnya sudah diakui dunia berkualitas tinggi. Kesimpulannya, semua kelakuan negatif yang dilakukan segelintir orang dimanapun, di Indonesia atau di negara maju, karena kesalahan individu atau kelompok tersebut yang mungkin disebabkan karena salah asuhan atau naif dalam memahami bagaimana sistem dan dunia ini bekerja dan berinteraksi.

Andai saja semua orang tua yang menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya selalu mencontohkan perilaku kasih sayang, tenggang rasa, pantang menyerah dan asupan humor yang cukup untuk menghadapi kekecewaan, mungkin generasi selanjutnya bisa lebih baik dari generasi saya. se mo ga. Apa salahnya saling belajar? Kalau di negara maju behasil menerapkan sesuatu yang inovatif dan baik seperti misalnya sekolah dan dinas pertamanan bersama-sama mengajarkan setiap anak TK-SD untuk menanam dan memelihara satu pohon di taman umum, yuk dicontoh. Mudah murah dan menyenangkan kan dan kalau berhasil diterapkan disini… wuiiiihh.. pasti tambah hijau, cantik dan teduh banget ya Indonesia. Ga perlu mimpi kangen-kangen sama Central Park atau Hyde Park.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi saudara sebangsa dan setanah air Indonesia tercinta yang sedang atau ingin menetap di luar Indonesia. Marilah berkarya sesuai dengan hati dan kemampuan masing-masing.  Kalau ada yang sukses di dunia dan mengakui bahwa dia asal Indonesia, yah kita juga bangga.  Yang aneh itu kalau ada orang Indonesia yang bangga sama Obama jadi presiden.

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
3 comments
+ add comment | tags Tags :
Page 1 of 20123451020...Last »
11