skippin' troupe
rss
21 Sep

Dicari: TK

at September 21st, 2011 by | permalinkpermalink | category Posted in Bohemian Rhapsody

Raissa baruuuu saja ultah ke 2, tapi saya sudah mulai browsing sekolah TK buat dia dari tahun lalu. Percaya atau tidak, tapi beneran saya sudah mulai cari-cari info tentang TK sudah hampir setahun sendiri. Kenapa mulai awal banget? Karena selain cari TK yang menghargai nilai-nilai Islami, kurikulum sesuai dengan keinginan, modern, bersih, lokasi strategis, harga terjangkau, ada satu kriteria saya yang sampai saat ini belum diterima oleh banyak TK yang ada di Jakarta.

Deg-deg an banget mau menulis kriteria satu ini sebelum pasang jubah baja. Oh well… kalau babak belur untung asuransi kesehatan ada, asuransi jiwa ada, jadi, here we go, trararaaaaa … saya mau mengaku kalau saya ingin Raissa mulai TK tahun depan, yang mana saat umurnya baru mau 3 tahun, tepatnya 2 tahun 10 bulan kalau melihat tahun ajaran baru di Indonesia mulai Juli. Really, how I wish academic year in Indonesia starts after September and yearly school breaks would be at least 3 months rather 1 month. Alasannya, karena melihat dari pertumbuhan dia dalam memahami bahasa dan konsep, menurut saya, Insya Allah dia akan mampu mengikuti kegiatan di TK. Engga kok..  saya bukan mau sok memaksa anak saya advancing academics-nya semata karena gengsi atau biar bisa dipamerin. Sejujurnya TK-TK yang saya lirik pun dicari yang tidak memaksakan untuk mengajarkan calistung. Saya tetap berprinsip kalau TK seharusnya lebih banyak porsi bermain (sambil belajar) tapi bukan yang fokus ke akademis semata. Justru karena itu bila TK tersebut lebih mengutamakan mengajarkan sosialisasi serta bermain (sambil belajar) harusnya Raissa tidak akan mengalami masalah untuk bergabung. Karena harusnya dia tetap lebih banyak bermain kan? TK yang sedikit waktu bermainnya, mengajarkan anak membaca, menulis, apalagi berhitung (!!), sudah pasti tidak menjadi tujuan saya buat Raissa. Btw, menurut saya pengenalan kepada huruf dengan menyanyi lagu ABC bukan termasuk aktivitas mengajarkan membaca, melainkan mempersiapkan anak untuk belajar membaca di tingkat SD nantinya.

Selain itu memang ada alasan yang lebih personal. Saya pun dulu mulai TK umur 3 tahun, tapi karena saya ultah bulan Mei, jadi ketika tahun ajaran baru mulai, umur saya sudah 3 tahun lewat (dikiiit) dan masuk SD umur 5 tahun. Tetap saya yang paling muda di TK, dan sepanjang sejarah sekolah dari SD, SMP, SMA, dalam 1 angkatan saya biasanya paling muda kecuali waktu SMA saya ketemu dengan sahabat saya, yang ternyata umurnya lebih muda 5 bulan dari saya. Jujur saya tidak berprestasi cemerlang gilang gemilang selama sekolah sampai SMA. Ngga pernah jadi juara kelas. Tapi looking back saya tidak pernah merasa minder jadi yang paling muda. Ya mungkin ada  sesekali pengen “tua-an” tapi wajar kan? Anak TK pengen jadi anak SD. Anak SMP, pengen cepat-cepat pakai rok abu-abu. Setelah lulus SMA dan kuliah, saya malah sangat bersyukur dengan umur muda saya. Saya senang bisa dapat kesempatan untuk “coba-coba” ambil kelas macam-macam tanpa takut dikejar umur. Lebih bersyukur lagi ketika lulus kuliah. Saya ngga mikirin umur dan merasa lebih bebas untuk mengambil internship disana-sini, jalan-jalan, senang-senang sepuasnya. Dan ketika mulai serius kerja, saya masih sering dibilang muda. Saat ada kesempatan mencoba pindah bidang kerja maupun pindah kantor sampai ke luar Jakarta, saya bisa dan berani ambil kesempatan karena ya itu saya merasa masih muda, wajar untuk coba sana-sini.

Balik ke urusan TK buat Raissa. Sayangnya sampai sekarang belum nemu TK yang mau menerima anak usia 3 tahun karena terganjal Undang-undang. Anehnya walau usia TK ditetapkan untuk anak mulai usia 4 tahun, tapi untuk tingkat SD diperbolehkan untuk menerima anak usia dibawah 6 tahun asalkan ada rekomendasi tertulis dari pihak yang kompeten konselor sekolah atau psikolog. Jadi sebenarnya bisa saja sih saya masukkan Raissa ke TK saat usianya 4 tahun tapi pas kelas B atau Nol Besar, dipindahkan ke SD. Cuman kok kayanya “kurang rapi” gitu transisinya karena menurut saya playgroup itu lebih cair and less formal, sedangkan TK lebih formal, jadi maunya ya lengkap 2 tahun TK sebelum SD. Ngerepotin diri sendiri aja ga sih?

Tapi hasil dari browsing sana-sini, masuk TK umur 3 tahun ini ternyata hal yang biasa di banyak negara lhooo, setidaknya berdasarkan site ini. Mmmm, jadi kayanya harus pindah ke salah satu negara Eropa, NZ, atau Singapore nih. Setidaknya 5 tahun ke depan lah, sampai Raissa dan adiknya sudah di SD. Yuuuk mari, Papa Kris…pindah yuuukk.

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
1 comment
+ add comment | tags Tags :
5 Aug

Just want to list some lessons learned through out our first time buying, renovating, and furnishing a home.

1. Sample.

Always get a sample of everything. I mean it, e-v-e-r-y-t-h-i-n-g! Parquet flooring? Get the sample of different textures and colors. Mosaics? Get the sample of different colors and sizes combination. Sandblast glass color? Do. Please do get a sample of the end finish. Ask them to paint on a small square glass. This particular item was the most expensive lesson we learned. Wall paints? That’s just too obvious right and I don’t need to remind anyone about it.

2. No compromise

If I don’t see a particular item I really like, I usually waited for awhile before exploring other options. Otherwise, I compromise too quickly and buy whatever and regret it. It took me almost 3 months before I decided on the fabrics for our floor cushions/floor couch. However, I do allow compromise when it comes to budget. Let’s say, I really really like that Villeroy and Boch sink but I compromised not to buy it because… I can’t afford it. Hehehe… I know that’s not exactly compromising but simply a force majeure.

3. Who’s the Boss?

Decide who’s the boss early on. I mean the house can be for the family but only one should have the final say. Others can give suggestion, and the boss should listen and consider all suggestions wholeheartedly, but when it’s time to take a decision and there’s no unanimous votes between family members, then the Boss should have the final say.

4. Professional

Do consult or better yet hire a professional. An architect/interior designer. Their advice indeed is valuable.

5. Research

Do browse, read, and window shopping to get inspiration. It’s better if doing it waaay before general contractor do the actual physical work on the property.

6. Petty Cash

It’s a pity that we only have a small petty. It’s almost guaranteed that whatever budget allocated in the beginning of a home-making project, it will balloon. So whatever budget you agreed at the beginning of the project, do put aside at least 30-50% more of the total agreed budget.

Do I miss something? Please feel free to add!

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
6 comments
+ add comment | tags Tags :
Page 20 of 39« First...10181920212230...Last »
11