Hooolllaaaaaa!! D’ooohh udah lama banget ya tarada cerita disini. Buat penderita sinus seperti ai, hati-hati sama debu yang lagi terbang-terbang. Apa kabaarr? Kabar kita disini Alhamdulillah baik tapi kemarin sih sempat banyak kehebohan. Nanti satu-satu ditulis rapelannya yaaa.
Cerita yang bisa bikin saya di pagi buta begini untuk menulis pasti cerita galau. Kalau bukan galau tingkat tinggi, mendingan tidur aja deh sambil kemulan sama anak-anak. Papanya anak-anak? Ada ituuu baru pulang. Disini lah curhatannya mulai dicolong :p
Kris lagi sibuk banget sudah 3 bulan ini.. banyak mencatatkan rekor baru deh buat keluarganya. Rekor 2 kali ke London dalam waktu 2 bulan, kalau pas di Jakarta paling cepat sampai rumah jam setengah 2 pagi sering banget jarum jam nyerempet angka 5 baru melintas pintu rumah, dan hampir tiap minggu ada konsinyering. Sungguh rasanya seperti lagi menjalankan long-distance relationship soalnya seringan kita berkoordinasi lewat telpon.
Sebenarnya saya juga lagi sibuk di kantor, setiap bulan ada biztrip keluar kota. Tapi kalau dibandingkan dengan kesibukan Kris, rasanya sibuknya saya cemen banget. Dari semua huru-hara sok sibuk ini, yang paling bikin sedih ya, kita jadi ngga bisa liburan keluarga di saat sudah jenuh.
Saat semua urusan untuk berlibur sudah siap, Kris tidak dikasih cuti. Huuhuuuuu… Ngga asyik banget deh. Dan menyebalkan sungguh. Buat saya yang Alhamdulillah kerja di kantor yang sangat menghargai cuti sebagai hak penuh pekerja jadi jarang permintaan cuti ditolak, malahan tidak pernah mengalami permohonan cutinya ditolak , urusan cuti di kantor berbasis Indonesia bikin gemes. Sudahlah jatah cuti tahunannya sedikit (1 hari per bulan atau 12 hari setahun itu terlalu sedikit ya Pak Menaker), tidak boleh diambil sekaligus, wajib dipotong cuti bersama, dan masih bisa ditolak pula permohonan cuti pekerja. TER-LA-LU.
Sedangkan pengalaman saya selama kerja, cuti benar-benar hak pekerja yang sangat dihormati oleh kantor. Kalau memang ada masa yang diperkirakan akan hectic beban kerjanya, minimal 1 bulan sebulan akan ada surat cinta dari Boss kantor yang memohon pekerja untuk tidak mengambil cuti dari tanggal sekian sampai sekian. Itupun kalau pekerjanya tetap mengajukan cuti karena sudah terlanjur beli tiket murmer bergembira, ijin cuti tetap akan keluar. Sepertinya kantor internasional lebih mahfum ada beda kemampuan belanja pekerja dengan Boss yang sanggup beli tiket pesawat first class open-date sehari sebelum keliling dunia. Sedangkan yang namanya pekerja pasti carinya tiket promo yang harganya sudah dibanting-banting. Biasanya tiket promo seperti itu harus dibeli setengah tahun sebelumnya. Minimal 3 bulan sebelum jadwal keberangkatan. Kalau pekerja mengajukan cuti tolong langsung disetujui saja lah. Kasihan kan sudah sanggupnya beli kelas ekonomi, etapi… harus dihangusin tiketnya.
So if I am a Boss.. I’ll make sure I respect human needs for rest and recuperation. Annual leave 2 days/month and can be taken anytime at employees’ discretion.
And if I am a Boss, if I know my staff is working over 15 hours a day for more than 1 month, that means the office is understaffed. Start recruiting at least temp assistance.
BTW… Kris bukan buruh pabrik panci di Tangerang yang lagi heboh di berita itu lho yaaa.
Liburan murah meriah, pantai pasir putih, ada unsur edukasi untuk anak dan anak-anak penyu yang lucu dimana hayoo?
Aceh? Bali? Lombok? Benar semuaaaa. Tapi ada lagi yang tempatnya lebih dekat ke Jakarta lho.Yaitu di Ujung Genteng! Dan wiken 4 hari di bulan Oktober lalu, kami sekeluarga menghabiskannya disana.
Ujung Genteng adalah kawasan ekowisata pantai di daerah Laut Selatan. Masuk dalam administrative kabupaten Sukabumi, Ujung Genteng “bersebelahan” dengan Pelabuhan Ratu. Kalau berangkat dari Jakarta, kita akan menuju arah Pelabuhan Ratu namun berbelok kearah Timur dan kira-kira setelah menyetir 2.5 jam kemudian sampai di Ujung Genteng. Total perjalanan darat dari Jakarta – Ujung Genteng adalah 10 jam. Sudah termasuk waktu untuk makan siang (yang lama karena harus nyuapin 2 anak kecil) sholat, dan berhenti berkali-kali untuk bergantian duduk dibelakang setir.
Jam 8 malam, akhirnya sampai juga kami sampai di penginapan yang sudah saya pesan jauh-jauh hari. Dan saya menyesal. Penginapannya sangat terpencil dan untuk fasilitas dan rupanya kemahalan. Padahal ke Ujung Genteng ini karena ingin liburan yang murah meriah. Untung ketika makan malam, penjaga penginapan menanyakan apakah kami tertarik untuk melihat penyu bertelur malam ini. Mata yang tadi sudah terasa sepet mendadak terang lagi, dan tentu saja kami jawab iya. …. untuk cerita selengkapnya, tentang :
Penyu bertelur…
Anak penyu, aka tukik, yang lucu…
silakan jalan-jalan ke Backpackology ya.