skippin' troupe
rss
21 Feb

DB Dengue

at February 21st, 2013 by | permalinkpermalink | category Posted in Home Affairs

Informasi tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) sebenarnya sudah bertebaran dimana-mana. Google aja DBD atau dengue, pilihan hasilnya puluhan halaman. Bahkan Departemen Kesehatan juga sudah membuat bulletin tentang DBD dalam bentuk file yang bisa diunduh dari website resmi mereka. Dalam bulletin depkes itu ditulis kalau DBD sudah menjadi masalah di Indonesia selama lebih dari 41 tahun. Lama banget ajah.

Dengan sekian banyaknya informasi tapi DBD tetap menjadi momok yang menyeramkan. Masih banyak korban DBD yang meninggal. Salah satu alasannya karena DBD tidak ada obatnya. Biasanya penderita yang diketahui terjangkit virus DBD, selain memastikan asupan gizi yang masuk baik dan cukup, pasti diharuskan meningkatkan pemasukan cairan ke tubuh untuk meningkatkan level trombositnya. Tergantung alat dan referensi rumah sakit, tapi dari pengalaman mengurus anak yang baru sembuh dari DBD, minimal level trombosit normal adalah 150 ribu. Dibawah itu ba-ha-ya maka penderita sebaiknya segera dirawat inap untuk diinfus demi memastikan cukup banyak cairan yang masuk ke tubuh. Apalagi bila yang terkena DBD adalah anak-anak. Begitu level trombosit sudah dibawah minimum sebaiknya segera di rawat inap saja karena meminta anak untuk bolak-balik minum susah-susah gampang euy. Ih udah panjang aja ini kata pengantarnya, padahalnya cuma mau cerita kalau Raissa baru kemarin keluar dari rumah sakit setelah dirawat dari DBD.

Maksud hati disini mau berbagi dan mengingatkan kembali pentingnya orang tua untuk waspada atas bahaya DBD. Untuk orang tua lebih baik parno daripada menyesal. Terbukti dari pengalaman dengan Raissa kemarin.

Selasa siang, dapat laporan dari si Mbak kalau perempuan kecil yang aktif banget itu mulai hangat badannya setelah pulang sekolah. Saya minta untuk dicek suhu badannya (penting! punya anak kecil harus punya thermometer di rumah! harus harus harus! tuh sampai ditulis 3x) tapi ternyata masih dibawah 37.5 berarti belum bisa dibilang demam. Kalau kata orang Jawa, badannya sumeng. Saya minta kepada si Mbak untuk terus pantau suhu badannya dulu dan membaca buku tumbuh kembang anak-nya Raissa untuk referensi berapa takaran dosis penurun panas yang sudah dianjurkan oleh DSA kalau nanti Raissa harus dikasih obatnya.

Sekitar jam 3 sore, si Mbak menelpon lagi kalau suhu badan Raissa sudah mencapai 38 jadi akhirnya saya minta untuk anaknya diminumin obat penurun panas. Pulaang kantor, begitu sampai di rumah Raissa langsung ngoceh panjang kalau dia badannya panas jadi nggak pergi ke TPA untuk kelas mengaji. Anaknya masih kelihatan aktif walau agak sayu. Saya pegang kening dan lehernya rasanya sudah panas banget. Cek lagi suhunya dan masih diatas 38, setelah hitung 4 jam dari jarak pemberian obat pertama, jam 7 Raissa minum obat penurun panas lagi. Waktu saya tanya ke Mbak tentang nafsu makan dan minumnya, laporannya Raissa tetap makan dan minum banyak. Tapi bahkan setelah dikasih obat hampir semalaman, demamnya stabil. Stabil diatas 38 terus. Beberapa kali saya kompres dengan handuk yang direndam di air biasa (bukan air dingin) dan walau menurunkan suhunya sedikit tapi masih termasuk kategori demam.

Besok hari Rabu-nya, Raissa saya suruh tinggal di rumah aja karena sepertinya butuh istirahat. Ketika mau berangkat ke kantor, suhu badannya sih normal. Ke Mbak saya pesan aja untuk memastikan Raissa makan banyak dan terutama sering-sering minum. Sekitar jam 11, PapaDatu’, Taya (adik saya), plus keluarga adik saya yang satu lagi: the Z family (Zio Lorenzo, Zia Ayu, dan Zazu) datang jenguk. Kecuali PapaDatu’, mereka semua juga mau menginap di sarang burung. Menjelang jam 2, Mbak telpon lagi laporan kalau suhu badan Raissa mulai panas lagi mencapai 38 lebih. Jadi saya minta Raissa untuk dikasih obatnya lagi. Ayu yang sempat kelayapan lagi ke PP juga ikut menelpon dengan laporan kalau Lorenzo yang ditinggal di sarang burung dengan Zazu bilang Raissa demam tinggi dan menawarkan untuk dikasih obat penurun panasnya Zazu aja. Sampai di sarang burung, saya raba badannya Raissa memang terasa panas banget. Ketika di cek, suhunya sudah 39.4. Waakks! Persis seperti sehari sebelumnya, semalaman sampai tengah malam anak ini demam tinggi. Esokannya, Kamis, cycle demamnya pun masih berulang. Demamnya baru hilang sepenuhnya mulai Jum’at.

Sebenarnya Jum’at malam, setelah lewat hitungan 3 hari sejak mulai demam, maunya bawa Raissa untuk tes darah. Telpon lab katanya mereka buka sampai jam 8 malam. Apa daya karena traffic hari Jum’at itu memang kutukan buat warga Jakarta, baru bisa menyentuh pagar rumah MamaUo aja jam setengah 8, cuma buroq yang bisa mengantarkan kita ke lab kurang dari setengah jam. Ketemu Raissa kelihatan seperti anak sehat biasa. Lagi lari-lari dalam rumah sambil ketawa-ketawa, tanpa demam.

Sabtu paginya, MamaUo tanya apakah jadi mau bawa Raissa untuk tes darah. Lihat anaknya seperti sehat jadi galau deh. Jadi bilang ke MamaUo, iya kayanya, nanti siangan. Siangnya pas lagi lunch  di GrandLucky merasa ada yang aneh dari penampakan Raissa. Sekitarnya lehernya agak merah, tapi bukan bintik-bintik. Anaknya sendiri tetap aktif, tapi kalau diperhatikan seperti agak sayu kalau anaknya lagi diam. Akhirnya diputuskan untuk langsung bawa Raissa buat tes darah.

Sampai di UGD, dokter jaga yang masih sangat muda heran melihat saya membawa anak yang secara penampilan klinisnya sehat wal afiat. Ya kalau lihat anak yang begitu disuruh naik tempat tidur UGD langsung kelincahan terlentang, balik tengkurap, balik terlentang dan begitu lihat senter dokter langsung mangap pamer lidah, bikin satu UGD ketawa, dokternya juga bingung kenapa saya minta anak pecicilan di tes darah. Karena melihat saya galau, walau sudah mengatakan kalau anaknya sehat dan tidak perlu tes darah, akhirnya dokternya setuju menulis rujukan untuk tes darah rutin.

Kira-kira 40 menit kemudian, dokter UGD menghampiri saya bilang “Bu, ternyata Ibu lebih pinter dari saya. Trombosit Raissa sudah dibawah normal.” Kesimpulan dokter, Raissa memang terkena DBD (Dengue Fever). Hasil tes darah, level trombosit Raissa 95,000 tapi karena dokternya melihat si bocah aktif banget banget, menyarankan untuk tidak rawat inap dengan catatan saya harus sering memberikan cairan ke Raissa dan setelah 24 jam, anaknya harus di tes darah ulang.

Begitu dinyatakan DBD, banyak saran masuk untuk memberikan jus jambu merah, sari kurma, angkak, akar pohon entah apa, dan obat cina lain. Awalnya saya kasih Raissa jus jambu merah yang sukses bikin anaknya marah-marah karena nggak suka. Satu gelas jus jambu baru habis 2 jam kemudian, itupun setelah saya paksa. Akhirnya saya pasrah, terserah anaknya mau minum apa aja yang penting sering.

Minggu siang, begitu Kris masuk rumah dari airport baru kembali dari biztrip ke London, langsung laporan kalau Raissa sakit DBD dan setelah makan siang harus tes darah ulang. Sebenarnya Kris sudah tahu si bocah sakit sejak Raissa demam hari pertama, tapi hasil tes darahnya dan diagnosa DBD-nya belum. Setelah lunch di Ah Mei Puri Mall, kita bertiga menyebrang ke RSPI Puri untuk tes darah ulang. Yakin banget kalau hasil darahnya pasti bagus karena Raissa makannya banyak (lebih dari cukup) dan minumnya juga.

Akhirnya dipanggil juga untuk dibacakan hasil tes darahnya. Dan hasilnya buruk :( Trombosit level Raissa turun lagi, ke level 86,000. Staff yang membacakan hasil rekomendasikan untuk segera rawat inap. Dengan pertimbangan agar lebih mudah mondar-mandir ke sarang burung, Kris dan saya memutuskan untuk rawat inap di RS. Asri (dan karena memang saya lebih nge-fans sama Asri aja). Sesampainya di UGD RS. Asri dan bertemu dengan dokter jaga yang sama dengan sehari sebelumnya. Kebetulan DSA yang biasa ditemui kalau lagi ke Asri sedang jadwal visit. Begitu diperiksa oleh DSA, rekomendasinya pun sama harus rawat inap (ranap). Malah seharusnya sejak kemarin begitu ketahuan level trombositnya dibawah normal. DSA-nya jadi menegur dokter jaga UGD deh.

Lebih tenang akhirnya setelah Raissa mulai diranap tapi juga ngga tegaaaaaaa. DBD itu ternyata penyakit yang sangat menguras emosi karena harus bolak balik melihat anaknya di-infus plus tes darah setiap hari. Setiaaaaaappp hari membekap anaknya setiap kena jarum suntik. Sampai anaknya trauma setiap melihat suster atau dokter. Kalau ada suster masuk kamar untuk check suhu, begitu lihat Raissa langsung panik “aku mau diapain Ma? aku mau diapain? Aku ga mau disuntik.”  :(((((( Sedih banget dehhhh.

Yang bisa bikin emak-emak cuek kaya saya nangis adalah kalau lihat pemandangan seperti ini :(

Untungnya Raissa termasuk pasien yang gampang. Nafsu makannya baik dan mau disuruh minum banyak asal bukan  jus jambu merah, sari kurma, angkak, dan rebusan akar pohon :D Tiga malam ranap, dan hari ke-4 trombositnya sudah di level 240,000. Yayyy!

Lesson-learned ya Ibu-ibu. Kalau anak demam tinggi dan suhunya susah turun sampai dibawah 37.5 walau sudah berulangkali dikasih obat penurun panas, pasti serangan virus. Biasanya demam bukan DBD kalau dikasih obat, suhu badannya akan turun dulu ke normal walau mungkin saja beberapa jam kemudian kembali lagi demamnya. Tapi dari pengalaman kemarin, saya curiga DBD karena demamnya Raissa terus-terusan diatas 38 walau sudah bolak-balik dikasih obat penurun panas. Kalau sampai begitu, segera setelah 3 hari berlalu, biarpun anaknya tidak demam lagi dan tampak amat sangat sehat, tetap dibawa ke RS/lab untuk tes darah. Menurut saya jangan sebelum itu juga karena kalau di tes darah sebelum 3 hari, nanti hasilnya kurang akurat. Dan kalau hasil tes menyatakan level trombositnya sudah dibawah 150,000, langsung rawat inap. Karena seperti kata sepupu saya yang pintar dan lulusan FK-UI, membedakan anak yang lemas dan mengantuk itu susah. Sedangkan anak yang lemas itu tanda bahaya tingkat tinggi dalam kasus DBD. Ibaratnya kalau jadi Obama, presiden sudah harus tekan tombol merah. Artinya sudah amat sangat genting.

But there’s always an exception and I’m not a doctor.  Ada teman yang cerita, setelah 3 anaknya diranap karena DBD, ketika mau pulang dari RS, suaminya mengeluh merasa lemas. Walau tidak demam tapi dokternya menyarankan untuk langsung tes darah dan hasilnya trombosit level sudah 15,000 sehingga harus tranfusi darah. Jadi kesimpulannya, sepertinya harus lebih peka saja dengan keluhan-keluhan orang terdekat kita. Apalagi kalau sedang ada wabah DBD terutama setelah hujan atau banjir. Periksa darah saja langsung. Lagi-lagi, lebih baik parno daripada menyesal seumur hidup.

 

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
8 comments
+ add comment | tags Tags :

There are 8 Comments ...

  1. arman says:

    kasian raissa… sekarang udah sembuh kah? moga2 sehat2 terus ya..

    • Lala says:

      Sudah pecicilan lagi, Man. Sdh bisa diomelin lagi sama gw untuk ga manja-manja dan bossy nyuruh2 orang buat ambilin dia segala barang at her command :D

      Amiiin.. semoga sehat2 terus deh anak2 kita. Sedih banget kalau anak sakit apalagi kalau sampe hrs hospitalized.

  2. Pungky says:

    Raissa, sehat selalu ya. Syukurlah kalau sekarang sdh sembuh mbak, suka gak tega kalau lihat anak kecil sakit :(

  3. rika says:

    Lalaaaaa…..hati gue sampe nyut-nyutan bacanya. Kalo udah denger DBD bawaannya langsung parno aja. Termasuk langsung parno juga nanti kalo pas mudik anak2 kena DBD gimana, soalnya terakhir mudik pun Kai kena tipes. Kalo ada yagn sakit mudah2an gue bisa waspada kaya elo.
    Makasih banget nih untuk tulisannya, La. Membantu banget.

    • Lala says:

      Semoga Kai dan Sami sehat dan tidak perlu mengalami DBD ya… Kalau sampai ada yang sakit apapun pasti dirimu pun akan waspada lah yakin. Standarnya begitu anak demam tinggi terus-menerus, ga pake ba-bi-bu hari ketiga harus cek darah.

  4. erika says:

    Mbak Lala salam kenal….mau tanya, yang pengalaman suami teman mbak….lemasnya gimana ya? apakah slm bbrp hari sudah lemas ataukah lemasnya beda dg lemas biasa? Maklum meski catatan segunung tp panik kan bisa mengaburkan segala hal, jadi smg pengalaman teman mbak bisa jadi, apalagi kadang hal spt ini bisa terlewat dr pengamatan.

    Kalo saya mis anak demam sudah lega kl demamnya ada batuk pilek, tp kl diare deg degan lagi krn takut dehidrasi :)

    Tks ya mbak….smg si kecil jangan sampe lagi alami sakit parah….

    Erika

    • Lala says:

      Hai Erika, salam kenal juga.
      Kalau seingatku si teman cerita suaminya mengeluh lemas seperti tidak ada tenaga sama sekali. Ceritanya ketiga anak mereka berbarengan dirawat di rs krn DBD, menjelang anak-anaknya pulih, si suami mengeluh lemas. Apakah sebenernya sudah beberapa hari merasa tidak enak badan karena sakit, mereka tidak tahu pasti karena saru dengan kecapean mengurus 3 anak sakit sekaligus.

      Memang kalau anak sakit, dunia rasanya jungkir balik ya. Semoga anak2 kita sehat selalu.

Add Yours

11